Review Film A Man Called Otto
Review Film A Man Called Otto. Film A Man Called Otto (2022) karya sutradara Marc Forster tetap menjadi salah satu drama komedi paling menghangat hati hingga 2026. Adaptasi Amerika dari novel Swedia A Man Called Ove dan film sebelumnya, cerita ini dibintangi Tom Hanks sebagai Otto Anderson, pensiunan pemarah yang kehilangan semangat hidup setelah ditinggal istri. Dengan sentuhan humor gelap, momen emosional, dan pesan tentang kekuatan komunitas, film ini raih sambutan hangat dari penonton meski kritik campur aduk. Di era di mana banyak orang bahas kesehatan mental dan kesepian lansia, A Man Called Otto terus relevan sebagai pengingat bahwa perubahan bisa datang dari tempat tak terduga. BERITA BASKET
Ringkasan Cerita dan Karakter Utama: Review Film A Man Called Otto
Cerita berpusat pada Otto, pensiunan pekerja kereta api yang ketat aturan dan suka mengomel tetangga karena hal kecil seperti parkir atau sampah. Setelah istri tercinta Sonia meninggal, Otto merencanakan bunuh diri berulang, tapi selalu terganggu kejadian sehari-hari. Kedatangan keluarga baru di seberang rumah—Marisol yang energik, suaminya Tommy yang kikuk, dan dua anak kecil—jadi katalisator perubahan. Marisol tak gentar dengan sikap Otto, malah paksa ia bantu macam-macam: ajari nyetir, perbaiki barang, sampai jadi “kakek angkat”. Flashback tunjukin masa lalu Otto: pertemuan manis dengan Sonia, tragedi yang buat ia keras hati. Karakter pendukung seperti teman transgender, tetangga tua, dan kucing liar tambah warna komunitas yang pelan-pelan cairkan tembok Otto. Ending penuh harapan tunjukin Otto temukan alasan hidup baru, meski tak sempurna.
Tema Kesepian dan Kekuatan Komunitas: Review Film A Man Called Otto
A Man Called Otto gali tema kesepian lansia dengan cara yang tak berat tapi menyentuh. Otto awalnya simbol orang yang “stuck” di masa lalu—rutinitas ketat, kemarahan kecil, dan rencana bunuh diri jadi pelarian dari rasa hampa. Tapi film tunjukin bahwa komunitas, meski mengganggu, bisa jadi obat. Marisol dan anak-anaknya paksa Otto keluar dari isolasi, sementara flashback dengan Sonia nunjukin bahwa cinta dulu buat ia lembut. Tema penerimaan perubahan terlihat dari Otto yang belajar terima tetangga beragam: dari imigran sampai transgender. Humor gelap—upaya bunuh diri yang selalu gagal karena gangguan lucu—bikin tema berat terasa ringan tanpa kurangi kedalaman. Film ini kritik halus masyarakat individualis: Otto awalnya tolak bantuan, tapi akhirnya sadar bahwa hidup butuh orang lain, tak peduli seberapa menyebalkannya mereka.
Penampilan Aktor dan Adaptasi
Tom Hanks beri performa luar biasa sebagai Otto—pemarahan khasnya campur kerapuhan emosional, bikin karakter pemarah tapi mudah disukai. Mariana Treviño curi adegan sebagai Marisol: energik, tegas, dan hangat, jadi kontras sempurna yang cairkan Otto tanpa terasa paksaan. Truman Hanks, anak Tom, main Otto muda di flashback—pilihan casting yang tambah nuansa pribadi. Penampilan pendukung seperti Rachel Keller sebagai Sonia atau Manuel Garcia-Rulfo sebagai Tommy tambah kehangatan keluarga. Marc Forster sutradarai dengan gaya sederhana: shot rumah suburban musim dingin yang indah tapi sepi, skor lembut yang emosional tanpa manipulatif. Adaptasi dari versi Swedia berhasil Amerika-kan cerita tanpa hilang esensi—humor lebih ringan, ending lebih optimis, tapi tetap setia pada tema asli tentang ketangguhan manusia di tengah duka.
Kesimpulan
A Man Called Otto tetap jadi drama komedi yang menghangat hati karena gabungkan humor gelap, emosi tulus, dan pesan bahwa tak pernah terlambat temukan alasan hidup baru. Di 2026, saat banyak diskusi tentang kesepian dan kesehatan mental lansia, film ini ingatkan bahwa komunitas—meski berisik dan tak sempurna—bisa selamatkan seseorang dari kegelapan. Penampilan Hanks-Treviño ikonik, adaptasi yang bijak, dan cerita sederhana tapi kuat bikin film abadi sebagai feel-good movie dengan hati. Bukan film dengan twist besar, tapi justru kekuatannya di momen kecil: tawa tetangga, bantuan tak terduga, dan pelan-pelan hati yang mencair. Layak ditonton ulang untuk senyum dan air mata, serta pengingat bahwa kadang, orang paling pemarah butuh pelukan paling hangat. Film ini bukti bahwa cerita tentang kehilangan bisa berakhir dengan harapan yang indah.



Post Comment