Review Film Alita: Battle Angel
Review Film Alita: Battle Angel. Alita: Battle Angel tetap menjadi salah satu film aksi fiksi ilmiah paling menarik sejak rilis pada tahun 2019. Hampir tujuh tahun kemudian, di awal 2026, film ini justru semakin sering dibicarakan kembali karena visualnya yang masih terlihat modern, tema yang relevan dengan perkembangan teknologi tubuh, serta cerita yang penuh semangat tentang identitas dan perlawanan. BERITA TERKINI
Disutradarai dengan ambisi besar, film ini mengadaptasi manga klasik Battle Angel Alita karya Yukito Kishiro. Cerita mengikuti Alita, seorang cyborg yang dibangun kembali dari limbah oleh dokter Ido di kota besi Iron City yang penuh kekerasan. Dari kebingungan identitas awal hingga menjadi pejuang paling ditakuti, perjalanan Alita adalah tentang menemukan diri di dunia yang memperlakukan manusia dan mesin sebagai komoditas.
Visual dan Desain Produksi yang Masih Memukau: Review Film Alita: Battle Angel
Salah satu alasan terbesar Alita masih terasa segar adalah desain visualnya yang sangat detail dan inovatif. Mata besar Alita yang ekspresif—teknik yang disebut “uncanny valley” tapi sengaja dimanfaatkan—memberi karakter itu rasa emosional yang kuat. Desain tubuh cyborg-nya, dari sendi mekanis hingga gerakan yang sangat fluid, terasa nyata dan organik.
Dunia Iron City dibangun dengan kontras tajam: kota bawah yang kotor, penuh limbah dan kekerasan, versus Zalem, kota elit yang mengambang di atas awan. Setiap frame dipenuhi detail—dari pasar gelap yang ramai, arena Motorball yang brutal, hingga desain senjata dan augmentasi tubuh yang kreatif. Efek CGI yang digunakan untuk Alita dan karakter cyborg lain masih terlihat sangat baik bahkan di standar 2026, karena banyak mengandalkan motion capture dan animasi fisik yang teliti.
Adegan aksi, terutama pertarungan Motorball dan duel akhir, termasuk yang paling dinamis dan memuaskan di genre ini. Koreografi cepat, kamera yang mengikuti gerakan dengan presisi, dan efek suara yang menggelegar membuat penonton merasakan intensitasnya.
Performa Aktor dan Karakter yang Menyentuh: Review Film Alita: Battle Angel
Performa utama sebagai Alita berhasil membawa karakter yang kompleks: dari cyborg yang polos dan kehilangan ingatan menjadi pejuang yang sadar akan kekuatan serta kerapuhannya. Transisi emosionalnya—dari rasa ingin tahu menjadi kemarahan, lalu penerimaan diri—terasa sangat tulus.
Karakter pendukung juga kuat. Dokter Ido memberikan keseimbangan antara figur ayah yang penyayang dan orang yang menyimpan rahasia. Hugo sebagai cinta pertama Alita membawa konflik moral yang nyata—ia ingin naik ke Zalem dengan cara apa pun, meski itu berarti mengkhianati orang yang dicintainya. Antagonis seperti Vector dan Zapan punya motivasi yang cukup jelas, sehingga konflik terasa personal, bukan sekadar jahat karena jahat.
Interaksi antar karakter terasa hidup karena dialog yang tajam dan chemistry yang alami. Film ini berhasil membuat penonton peduli pada Alita bukan karena dia kuat, tapi karena dia rapuh dan terus mencari makna di dunia yang memperlakukannya sebagai barang.
Tema yang Semakin Relevan di Era Sekarang
Di balik aksi yang mendebarkan, Alita: Battle Angel menyampaikan beberapa tema besar yang terasa semakin dekat dengan kenyataan kita. Pertama, identitas di era augmentasi tubuh: apakah kita masih manusia kalau sebagian besar tubuh kita adalah mesin? Kedua, kesenjangan kelas yang ekstrem—Zalem sebagai simbol elit yang menindas kota bawah mencerminkan ketimpangan sosial yang semakin lebar di dunia nyata.
Ketiga, perlawanan individu melawan sistem yang menindas. Alita tidak hanya bertarung untuk bertahan hidup—ia bertarung untuk membuktikan bahwa bahkan makhluk “buatan” pun punya hak atas kebebasan dan martabat. Tema-tema ini, yang sudah kuat pada 2019, terasa lebih tajam sekarang ketika teknologi prostetik, implant otak, dan biohacking semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Alita: Battle Angel adalah film yang berhasil menggabungkan aksi spektakuler, visual inovatif, dan cerita emosional tanpa kehilangan jiwa. Meski beberapa subplot terasa terburu-buru dan akhirnya meninggalkan ruang untuk sekuel yang belum terealisasi, kekuatannya terletak pada karakter utama yang relatable dan dunia yang terasa hidup.
Di tahun 2026, ketika kita semakin sering bertanya tentang batas antara manusia dan mesin, Alita terasa seperti cermin yang jujur sekaligus menghibur. Ia mengajak kita melihat bahwa kekuatan sejati bukan datang dari augmentasi tubuh, melainkan dari kemauan untuk tetap menjadi diri sendiri di dunia yang ingin mengubah kita menjadi sesuatu yang lain.
Bagi penggemar sci-fi aksi yang suka cerita dengan hati, Alita: Battle Angel tetap salah satu yang paling layak ditonton ulang. Ia mungkin tidak sempurna, tapi justru ketidaksempurnaannya itulah yang membuatnya terasa sangat manusiawi—dan sangat layak diingat.



Post Comment