Review Film Marty Supreme: Timothée Chalamet Juara?
Review Film Marty Supreme: Timothée Chalamet Juara? Marty Supreme telah resmi rilis di bioskop pada 25 Desember 2025 oleh A24, setelah premiere dunia sebagai secret screening di New York Film Festival pada 6 Oktober 2025. Disutradarai dan ditulis Josh Safdie bersama Ronald Bronstein, film sports comedy-drama berdurasi sekitar 149 menit ini berlatar New York 1952 dan mengikuti Marty Mauser (Timothée Chalamet), seorang pemuda ambisius yang bekerja di toko sepatu sambil mengejar mimpi menjadi juara dunia table tennis. Dengan rating R untuk bahasa kasar dan intensitas, film ini menampilkan cast ensemble kuat: Gwyneth Paltrow sebagai Kay Stone (aktris kaya yang terpikat Marty), Odessa A’zion sebagai Rachel Mizler (kekasih masa kecil), Kevin O’Leary, Tyler Okonma (Tyler, the Creator), Abel Ferrara, Fran Drescher, serta cameo dari figur seperti Philippe Petit. Setelah rilis liburan, film ini langsung jadi salah satu yang paling dibicarakan tahun ini—dengan pujian luas atas performa Chalamet yang karismatik dan energi frenetik Safdie. Banyak kritikus menyebutnya sebagai salah satu film terbaik 2025, bahkan karir terbaik Chalamet. Pertanyaannya: apakah Chalamet benar-benar juara di sini, atau film ini hanya hype berlebih? REVIEW FILM
Plot dan Tema Ambisi yang Beracun dari Film Marty Supreme: Review Film Marty Supreme: Timothée Chalamet Juara?
Cerita mengikuti Marty Mauser, seorang pemuda Yahudi yang bekerja di toko sepatu sambil menjadi salah satu pemain table tennis terbaik di New York. Ia punya mimpi besar: memenangkan kejuaraan dunia di Wembley, mematenkan bola pingpong bermerek “Marty Supreme”, dan naik kelas sosial. Marty adalah tipe orang yang tak pernah berhenti—hustling setiap sudut, menipu, memanfaatkan orang, dan berlari kencang menuju “American Dream” dengan kecepatan tinggi.
Safdie membangun narasi seperti permainan pingpong itu sendiri: cepat, tak terduga, penuh spin dan smash. Ada affair dengan Rachel (Odessa A’zion), hubungan rumit dengan ibu (Fran Drescher), serta ketertarikan erotis pada Kay Stone (Gwyneth Paltrow)—seorang aktris pensiun yang kaya. Konfliknya bukan hanya kompetisi olahraga, tapi perjuangan internal Marty melawan ambisi toksiknya sendiri. Film ini mengkritik hero-nya yang egois dan manipulatif, sambil tetap membuat penonton terpikat oleh karismanya. Tema tentang obsesi, penebusan, dan harga kesuksesan terasa mendalam, dengan akhir yang bittersweet dan reflektif. Meski pacing sangat intens—mirip Uncut Gems—Safdie berhasil menjaga keseimbangan antara komedi screwball, drama, dan ketegangan olahraga.
Visual, Performa, dan Elemen Teknis Film Marty Supreme: Review Film Marty Supreme: Timothée Chalamet Juara?
Secara visual, Marty Supreme memukau. Safdie menggunakan sinematografi dinamis yang menangkap ritme cepat table tennis—close-up bola memantul, sweat flying, dan gerakan Marty yang pinwheeling. Latar 1950-an direka dengan autentik tapi disuntik elemen anachronistic seperti needle drops dari lagu 80-an (Public Image Ltd., Peter Gabriel, Tears for Fears) untuk menciptakan rasa displacement yang sengaja. Adegan pertandingan table tennis dieksekusi dengan presisi tinggi, membuat olahraga itu terasa epik dan mendebarkan.
Performa Chalamet jadi pusat segalanya—ia memberikan karir terbaiknya: energik, nervy, sweaty, dan achingly human. Marty adalah karakter yang sulit disukai—egois, mean-spirited—tapi Chalamet membuatnya magnetis, membuat penonton ikut terdorong meski ingin menamparnya. Gwyneth Paltrow membawa nuansa glamor dan kerentanan sebagai Kay, Odessa A’zion memberikan kontras emosional sebagai Rachel, sementara Fran Drescher dan Kevin O’Leary menambah warna autentik. Ensemble cast terasa solid, chemistry antar karakter kuat, dan Safdie mengarahkan dengan intensitas yang tak kenal lelah—membuat film ini terasa seperti roller coaster yang tak bisa dihentikan.
Kesimpulan
Marty Supreme bukan hanya worth it—ia salah satu film paling exciting dan memorable tahun ini. Josh Safdie berhasil menciptakan epic propulsive yang menggabungkan sports movie klasik dengan kritik tajam terhadap ambisi beracun, sambil tetap menghibur lewat humor hitam dan energi tinggi. Timothée Chalamet benar-benar juara di sini: performanya karismatik, raw, dan tak terlupakan, membawa karakter yang kompleks dan membuat film ini bersinar.
Bagi penggemar Uncut Gems atau yang suka cerita underdog dengan twist gelap, ini wajib ditonton di bioskop untuk merasakan intensitasnya maksimal. Meski beberapa merasa terlalu frenetik atau hero-nya terlalu unlikable, mayoritas pujian menegaskan bahwa Chalamet dan Safdie telah menciptakan sesuatu yang spesial—sebuah odyssey tentang mimpi besar yang datang dengan harga mahal. Siapkah kamu ikut berlari bersama Marty? Karena sekali mulai, tak ada jalan mundur.



Post Comment