Review Film: How to Train Your Dragon (2010)

Review Film: How to Train Your Dragon (2010)

Review Film: How to Train Your Dragon Sebelum tahun 2010, DreamWorks Animation dikenal sebagai studio “anti-Disney” yang lebih mengedepankan komedi parodi dan referensi budaya pop lewat film-film seperti Shrek dan Madagascar. Namun, perilisan How to Train Your Dragon menandai titik balik yang signifikan. Di bawah arahan sutradara Chris Sanders dan Dean DeBlois (duo di balik Lilo & Stitch), studio ini membuktikan bahwa mereka mampu menghasilkan karya epik yang tulus, emosional, dan menakjubkan secara visual tanpa harus bergantung pada lelucon kasar.

Berlatar di Pulau Berk yang mistis, tempat para Viking yang tangguh bertarung melawan naga adalah cara hidup sehari-hari, film ini memperkenalkan kita pada Hiccup. Ia adalah anak kepala suku yang kurus, canggung, dan sarkastik—antitesis dari apa yang diharapkan dari seorang Viking. Ketika Hiccup berhasil menjatuhkan seekor naga Night Fury yang legendaris namun tidak tega membunuhnya, dimulailah sebuah persahabatan rahasia yang akan mengubah nasib kaumnya selamanya. Ini adalah kisah klasik “boy and his dog”, namun ditingkatkan menjadi skala fantasi yang megah.

Toothless: Kucing Raksasa Bersayap Review Film: How to Train Your Dragon

Jantung dari film ini adalah hubungan antara Hiccup dan naganya, Toothless. Keputusan kreatif paling brilian dalam film ini adalah membuat Toothless tidak bisa berbicara. Tidak seperti keledai di Shrek atau hewan di Madagascar, Toothless adalah binatang liar yang berkomunikasi lewat ekspresi wajah, geraman, dan bahasa tubuh. Animator DreamWorks dengan cerdas memodelkan perilaku Toothless berdasarkan kucing, anjing, dan kuda, membuatnya terasa familiar dan sangat menggemaskan.

Interaksi mereka dibangun melalui momen-momen hening yang indah, seperti adegan “Forbidden Friendship” di mana Hiccup mencoba menyentuh Toothless untuk pertama kalinya. Chemistry mereka terasa organik dan diperoleh dengan susah payah (earned), bukan instan. Penonton melihat bagaimana rasa takut berubah menjadi rasa ingin tahu, dan akhirnya menjadi kepercayaan mutlak. (berita bola)

Sensasi Terbang dan Sinematografi Roger Deakins

Secara visual, How to Train Your Dragon menetapkan standar baru untuk adegan penerbangan dalam animasi. Untuk memberikan kesan realistis dan sinematik, tim produksi menyewa sinematografer legendaris Roger Deakins (pemenang Oscar untuk 1917 dan Blade Runner 2049) sebagai konsultan visual. Pengaruh Deakins terlihat jelas dalam penggunaan pencahayaan yang dramatis, bayangan kontras, dan pergerakan kamera yang dinamis.

Adegan “Test Drive”, di mana Hiccup dan Toothless melakukan penerbangan pertama mereka yang sesungguhnya, adalah salah satu urutan paling memukau dalam sejarah animasi. Rasa kecepatan, angin yang menerpa wajah, dan kegagalan yang nyaris fatal, semuanya disajikan dengan intensitas yang membuat penonton menahan napas. Film ini berhasil menangkap euforia dan kebebasan terbang dengan cara yang jarang bisa dilakukan oleh film live-action sekalipun.

Skor Musik yang Menggetarkan Jiwa

Film ini tidak akan lengkap tanpa membahas musik gubahan John Powell. Skor musik How to Train Your Dragon sering dikutip sebagai salah satu soundtrack film terbaik sepanjang masa. Powell memadukan instrumen orkestra megah dengan elemen musik Skotlandia dan Keltik (seperti bagpipes dan tin whistle), menciptakan melodi yang heroik, romantis, dan penuh petualangan. Lagu “Test Drive” dan “Romantic Flight” bukan sekadar latar belakang, melainkan narator yang memandu emosi penonton, mengangkat adegan visual yang sudah bagus menjadi sesuatu yang transenden.

Keberanian Naratif dan Konsekuensi Nyata

Apa yang membedakan film ini dari kebanyakan animasi anak-anak adalah keberaniannya mengambil risiko naratif. Film ini menangani tema cacat fisik dengan cara yang sangat dewasa. Toothless kehilangan sirip ekornya akibat tembakan Hiccup, membuatnya cacat permanen dan bergantung pada alat buatan Hiccup untuk terbang.

Namun, twist terbesar ada di ending. Alih-alih keluar tanpa goresan setelah pertempuran terakhir, Hiccup kehilangan kaki kirinya. Ini adalah keputusan yang mengejutkan dan berani untuk film keluarga. Hal ini menegaskan pesan bahwa perdamaian dan perubahan memerlukan pengorbanan. Kesamaan fisik ini (Hiccup dengan kaki prostetik dan Toothless dengan ekor prostetik) memperdalam ikatan mereka sebagai dua jiwa yang “rusak” namun menjadi utuh ketika bersama. Pesan tentang empati—bahwa musuh kita mungkin hanyalah makhluk yang sama takutnya dengan kita—disampaikan tanpa terasa menggurui.

Kesimpulan Review Film: How to Train Your Dragon

Secara keseluruhan, How to Train Your Dragon adalah sebuah kemenangan artistik dan emosional. Film ini memiliki segalanya: aksi yang memacu adrenalin, humor yang cerdas, visual yang indah, dan hati yang sangat besar.

Ini adalah kisah coming-of-age yang sempurna tentang menemukan jati diri di tengah ekspektasi orang tua yang berat. Stoick the Vast, ayah Hiccup, bukanlah penjahat; ia hanya orang tua yang mencintai anaknya namun tidak memahaminya, membuat konflik keluarga di sini terasa sangat relatable. Film ini adalah awal yang kuat untuk apa yang kemudian menjadi salah satu trilogi terbaik dalam sejarah sinema. Sebuah tontonan wajib yang akan membuat Anda ingin memiliki naga sendiri.

review film lainnya ….

Post Comment