Review Film The Man from U.N.C.L.E.
Review Film The Man from U.N.C.L.E. Film The Man from U.N.C.L.E. yang dirilis pada 2015 kembali menjadi perbincangan di akhir 2025 ini, terutama setelah popularitasnya melonjak lagi di layanan streaming dan sering disebut sebagai spy comedy underrated. Disutradarai oleh Guy Ritchie, film ini merupakan adaptasi ulang serial televisi klasik 1960-an, dengan Henry Cavill sebagai agen CIA Napoleon Solo dan Armie Hammer sebagai agen KGB Illya Kuryakin. Berlatar Perang Dingin awal 1960-an, cerita mengikuti keduanya yang terpaksa bekerja sama untuk hentikan organisasi kriminal yang ingin kuasai senjata nuklir. Dengan durasi sekitar 116 menit, film ini meraup lebih dari 109 juta dolar secara global, meski awalnya kurang sukses di box office, tapi kini dihargai karena gaya stylish dan chemistry aktornya. BERITA TOGEL
Alur Cerita dan Chemistry Karakter: Review Film The Man from U.N.C.L.E.
The Man from U.N.C.L.E. dimulai dengan aksi kejar-kejaran seru di Berlin Timur, di mana Solo merekrut Gaby Teller—putri ilmuwan hilang yang diperankan Alicia Vikander—untuk misi bersama Illya. Mereka bertiga menyusup ke organisasi mantan Nazi yang dipimpin Victoria Vinciguerra, wanita kejam yang diperankan Elizabeth Debicki dengan pesona dingin. Alur penuh twist ringan, fokus pada kolaborasi paksa antara agen Barat dan Timur yang awalnya saling benci. Chemistry antara Cavill yang santai dan karismatik dengan Hammer yang kaku tapi kuat menjadi jantung film—banter mereka lucu, aksi bersama mulus. Vikander curi perhatian sebagai Gaby yang cerdas dan tangguh, sementara Debicki jadi villain elegan yang mengancam. Cerita sederhana tapi entertaining, lebih tentang hubungan karakter daripada konspirasi berat.
Gaya Visual dan Aksi Stylish: Review Film The Man from U.N.C.L.E.
Guy Ritchie membawa signature style-nya ke film ini: editing cepat, split-screen kreatif, humor kering, dan soundtrack retro yang groovy. Visual 1960-an direka ulang sempurna—kostum modis, mobil klasik Italia, lokasi Roma dan Capri yang indah, serta warna cerah yang kontras dengan tema Perang Dingin. Sequence aksi dirancang unik, seperti kejar-kejaran perahu dan mobil yang dikombinasi humor, atau pertarungan Illya yang brutal tapi stylish. Musik era itu dipadukan modern, membuat adegan terasa seperti video musik panjang yang fun. Tidak ada kekerasan berlebih; semuanya ringan, elegan, dan penuh pesona spy klasik tanpa terlalu serius.
Humor dan Relevansi hingga Kini
Film ini sukses satiris stereotip Perang Dingin—agen Amerika sombong, agen Soviet temperamental, tapi akhirnya saling hormat. Dialog tajam penuh one-liner, adegan komedi situasi seperti pesta mode atau makan malam tegang, membuatnya beda dari spy thriller gelap modern. Di akhir 2025, The Man from U.N.C.L.E. semakin dihargai sebagai alternatif ringan di tengah film mata-mata berat, dengan gaya Ritchie yang khas tapi terkendali. Meski sekuel batal karena performa box office, ia tetap jadi cult favorite bagi penggemar spy comedy stylish yang tak butuh plot terlalu dalam.
Kesimpulan
The Man from U.N.C.L.E. adalah spy film yang menyenangkan, stylish, dan penuh pesona retro. Dengan chemistry kuat Cavill-Hammer-Vikander, arahan Ritchie yang energik, serta visual dan musik yang memikat, film ini berhasil gabungkan homage serial klasik dengan pendekatan modern yang fun. Ia bukan thriller intens, tapi hiburan ringan dengan aksi elegan dan humor cerdas. Di era spy film sering serius atau over-the-top, karya ini tetap segar sebagai pilihan santai yang patut ditonton ulang—bukti bahwa mata-mata bisa menghibur tanpa harus terlalu gelap atau rumit.



Post Comment