Review Film Ayat-Ayat Cinta 2
Review Film Ayat-Ayat Cinta 2. Film Ayat-Ayat Cinta 2 yang dirilis pada 2017 kembali menjadi sorotan di awal 2026. Sekuel dari karya fenomenal 2008 ini sering ditayangkan ulang di televisi dan platform digital, membangkitkan diskusi tentang romansa religius serta isu toleransi. Diadaptasi dari novel karya Habiburrahman El Shirazy, film ini sukses besar dengan lebih dari 2,8 juta penonton saat pertama tayang, menjadikannya salah satu film Indonesia terlaris tahun itu. Kini, kisah lanjutan Fahri ini masih menyentuh hati, terutama bagi yang merindukan perpaduan cinta, iman, dan pengorbanan. BERITA VOLI
Plot dan Karakter Utama: Review Film Ayat-Ayat Cinta 2
Cerita berlanjut sembilan tahun setelah film pertama. Fahri kini tinggal di Edinburgh, Skotlandia, menjadi dosen universitas sambil berduka atas hilangnya Aisha yang menjadi relawan di Palestina. Ia hidup bersama pembantu rumah tangga Turki bernama Hulusi, sambil menghadapi Islamofobia dari tetangga dan masyarakat sekitar. Konflik muncul saat Fahri bertemu berbagai wanita seperti Sabina, Hulya sepupu Hulusi, serta Keira yang awalnya membenci tapi perlahan terpikat kebaikan Fahri.
Fedi Nuril kembali memerankan Fahri dengan matang, menunjukkan kesabaran dan keteguhan iman. Tatjana Saphira sebagai Hulya membawa kehangatan, Dewi Sandra sebagai Sabina misterius, dan Chelsea Islan sebagai Keira energik. Karakter pendukung seperti Uncle Hulusi menambah humor ringan. Chemistry Fahri dengan para wanita terasa emosional, meski fokus lebih pada perjuangan batin dan kebaikan tanpa pamrih.
Elemen Visual dan Religius: Review Film Ayat-Ayat Cinta 2
Ayat-Ayat Cinta 2 menonjol dengan latar Edinburgh yang indah, menangkap pemandangan kota tua dan universitas bergengsi. Sinematografi mendukung nuansa melankolis Fahri, diperkuat soundtrack menyentuh dari penyanyi ternama. Elemen religius tetap kuat, membahas Islamofobia, toleransi antaragama, serta nilai kesabaran dan cinta universal tanpa menggurui.
Disutradarai Guntur Soehardjanto, film ini menyajikan tempo lambat tapi penuh refleksi, dengan pesan tentang memperbaiki citra Islam melalui perbuatan baik. Visual eksotis Skotlandia memberikan napas segar dibanding latar Mesir di film pertama, membuat cerita terasa lebih global dan relevan.
Kelebihan dan Kritik
Film ini dipuji karena pesan toleransi yang aktual, performa Fedi Nuril yang konsisten, serta kesuksesan box office meski rilis di akhir tahun. Banyak penonton terharu dengan adegan pengorbanan dan akhir yang bittersweet, plus soundtrack yang mudah diingat. Ia berhasil melanjutkan warisan film religius dengan sentuhan modern.
Di sisi lain, kritik menyebut plot kurang kuat dan terlalu idealis, karakter Fahri terasa terlalu sempurna hingga kurang relatable. Beberapa adegan dinilai konyol atau kurang logis, serta pengulangan tema dari film pertama membuat sebagian penonton kecewa. Meski mixed reviews, dampak emosionalnya tetap terasa bagi penggemar setia.
Kesimpulan
Ayat-Ayat Cinta 2 membuktikan daya tahan kisah Fahri sebagai simbol cinta hakiki dan ketabahan iman. Di awal 2026 ini, tayangan ulangnya mengingatkan bahwa kebaikan bisa menaklukkan prasangka, meski di tengah dunia penuh konflik. Dengan visual memukau dan pesan mendalam, film ini cocok ditonton ulang untuk merenungkan arti toleransi dan pengorbanan. Secara keseluruhan, sekuel ini adalah lanjutan layak yang abadi, meski tak setinggi pendahulunya, tetap menyentuh hati jutaan penonton dengan kehangatan religiusnya.



Post Comment