Review Film Carol

review-film-carol

Review Film Carol. Di penghujung 2025, ketika diskusi tentang representasi queer di layar lebar kembali memanas, Carol (2015) arahan Todd Haynes mendadak kembali menjadi bahan pembicaraan utama di komunitas film. Bukan karena ada rilis ulang besar-besaran, melainkan karena penonton baru menemukannya dan langsung terpukau oleh kepekaan serta keindahannya yang tak lekang waktu. Berlatar New York dan sekitarnya pada awal 1950-an, film ini menceritakan cinta terlarang antara Carol Aird, wanita kaya yang sedang bercerai, dan Therese Belivet, pegawai toko muda yang sedang mencari jati diri. Dengan dua penampilan luar biasa dari Cate Blanchett dan Rooney Mara, Carol membuktikan bahwa cerita cinta paling kuat seringkali disampaikan lewat tatapan dan keheningan. BERITA BOLA

Dua Penampilan yang Mengguncang Jiwa: Review Film Carol

Cate Blanchett sebagai Carol adalah definisi sempurna dari kata “magnetis”. Ia memerankan wanita yang tampak menguasai segalanya di luar, tapi rapuh di dalam, dengan setiap gerakan tangan dan hembusan asap rokok yang terukur. Rooney Mara, di sisi lain, membawa Therese dengan kepolosan yang memikat—matanya yang besar penuh rasa ingin tahu menjadi jendela bagi penonton untuk jatuh cinta bersamanya. Kimia mereka terasa nyata sejak pertemuan pertama di lantai toko mainan, ketika Carol lupa sarung tangannya di meja. Interaksi mereka minim dialog berlebih; cukup satu pandangan di cermin mobil atau jari yang hampir bersentuhan, emosi sudah membanjir. Penghargaan yang mereka terima di festival besar bukan sekadar formalitas—ini memang akting level tertinggi.

Keindahan Visual yang Bernapas: Review Film Carol

Sinematografi karya Edward Lachman adalah puisi bergerak. Difilmkan dengan format 16 mm yang memberikan tekstur butiran halus, Carol terasa seperti album foto lama yang hidup kembali. Palet warna hijau kusam, merah anggur, dan abu-abu kabut musim dingin menciptakan rasa rindu yang permanen. Setiap frame bisa dipajang di galeri—dari pantulan wajah Therese di kaca jendela kereta hingga siluet Carol di bawah lampu jalan yang berkabut. Kostum karya Sandy Powell, terutama mantel bulu dan topi Carol, bukan sekadar estetika; mereka adalah armor sosial yang perlahan dilepas seiring cerita. Musik piano Carter Burwell yang melankolis mengisi celah-celah keheningan, membuat penonton merasa seperti mengintip kehidupan orang lain tanpa izin.

Narasi yang Berani Namun Lembut

Beradaptasi dari novel semi-otobiografi Patricia Highsmith, Carol tidak pernah berteriak tentang ketidakadilan yang dihadapi pasangan sesama jenis di era 1950-an. Ia justru menunjukkannya lewat detail kecil yang menusuk: tatapan curiga pramuniaga, rekaman suara yang digunakan sebagai alat pemeras, ancaman kehilangan hak asuh anak. Konflik utama bukan datang dari kekerasan fisik, tapi dari tekanan masyarakat yang tak terucap. Haynes memilih tempo lambat yang berani—ada adegan berdialog selama lima menit hanya dengan close-up wajah—namun itu justru membuat momen-momen intim terasa monumental. Adegan cinta mereka yang akhirnya terjadi bukanlah puncak sensasional, melainkan pembebasan yang ditunggu-tunggu, difilmkan dengan cahaya lembut dan rasa hormat yang jarang ada di layar.

Dampak yang Masih Terasa Sepuluh Tahun Kemudian

Sepuluh tahun setelah rilis, Carol tetap menjadi tolok ukur film romansa queer yang elegan. Ia membuka jalan bagi banyak cerita serupa yang lebih berani secara naratif, sekaligus mengingatkan bahwa cinta tidak perlu berisik untuk terasa dahsyat. Di 2025, ketika banyak film berlomba menampilkan representasi secara eksplisit, Carol justru terasa semakin berharga karena pendekatannya yang penuh martabat—ia tidak memohon penerimaan, ia hanya menunjukkan bahwa cinta ini nyata, indah, dan layak diperjuangkan.

Kesimpulan

Carol adalah salah satu film cinta terindah yang pernah dibuat, titik. Dengan akting yang menghipnotis, visual yang memabukkan, narasi yang penuh keberanian tenang, dan resonansi yang tak pernah pudar, ia tetap jadi pengalaman sinematik yang wajib dirasakan ulang. Bagi yang sudah menonton berkali-kali, ia seperti lagu lama yang selalu terdengar baru. Bagi yang belum, siapkan tisu dan hati yang terbuka—karena sekali jatuh cinta pada Carol, kamu tidak akan pernah benar-benar pulih.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Post Comment