Review Film Dune Prophecy: Sci-Fi Epik atau Terlalu Lambat?

review-film-dune-prophecy-sci-fi-epik-atau-terlalu-lambat

Review Film Dune Prophecy: Sci-Fi Epik atau Terlalu Lambat? Dune: Prophecy, serial prekuel Dune yang tayang sejak akhir 2024 di HBO Max, masih menjadi perbincangan hangat di awal 2026. Serial ini mengambil latar 10.000 tahun sebelum peristiwa Dune, fokus pada asal-usul Bene Gesserit dan perjuangan mereka membentuk kekuatan politik di balik kekaisaran. Dibintangi Emily Watson sebagai Valya Harkonnen, Olivia Williams sebagai Tula Harkonnen, serta Mark Strong sebagai Grand Patriarch, serial ini punya durasi episode 50–60 menit dengan total 8 episode di season pertama. Rating Rotten Tomatoes mencapai 82% dari kritikus dan 78% dari penonton, sementara Metacritic skor 72/100. Pertanyaan besar yang muncul: apakah Dune Prophecy berhasil jadi sci-fi epik yang layak disebut pewaris Dune, atau malah terasa terlalu lambat dan bertele-tele? REVIEW FILM

Visual dan Produksi Kelas Atas di Film Dune Prophecy: Review Film Dune Prophecy: Sci-Fi Epik atau Terlalu Lambat?

Produksi visual Dune Prophecy tetap setia pada estetika Denis Villeneuve: gurun Arrakis yang luas, arsitektur megah Giedi Prime, dan interior kapal serta istana yang megah. Penggunaan warna dingin, bayangan panjang, dan pencahayaan dramatis membuat setiap frame terasa seperti lukisan hidup. Desain kostum Bene Gesserit—jubah hitam elegan dengan detail rumit—dan set kapal luar angkasa terasa sangat mewah dan futuristik. Efek visual untuk elemen sci-fi seperti navigasi Spacing Guild dan teknologi Bene Gesserit juga sangat mulus. Adegan pertarungan tangan kosong dan duel politik terasa intens meski minim aksi besar. Musik Volker Bertelmann (Hauschka) berhasil ciptakan nuansa misterius dan tegang yang pas dengan dunia Dune. Secara produksi, serial ini berada di level tertinggi HBO—tidak ada yang terasa murahan atau terburu-buru.

Cerita dan Pacing yang Lambat tapi Berbobot: Review Film Dune Prophecy: Sci-Fi Epik atau Terlalu Lambat?

Cerita berfokus pada dua saudari Harkonnen—Valya dan Tula—yang berjuang membangun Bene Gesserit di tengah intrik kekaisaran. Serial ini lebih banyak bicara soal politik, manipulasi genetik, dan perebutan kekuasaan daripada aksi fisik. Ini membuatnya terasa sangat berbeda dari Dune film yang lebih action-oriented. Pacing memang lambat—banyak dialog panjang, adegan politik, dan pembangunan dunia yang detail. Beberapa penonton merasa bosan di episode 3–5 karena kurangnya aksi besar. Namun bagi penggemar lore Dune, pacing ini justru jadi kekuatan: serial ini memberi ruang untuk memahami bagaimana Bene Gesserit lahir, bagaimana manipulasi genetik dimulai, dan bagaimana kekuatan “Voice” berkembang. Emily Watson sebagai Valya Harkonnen tampil sangat kuat—dingin, ambisius, tapi punya kerapuhan yang membuat karakternya kompleks. Olivia Williams sebagai Tula juga beri kontras emosional yang pas.

Kelemahan dan Perbandingan dengan Dune Film

Kelemahan utama ada di pacing dan kurangnya aksi. Bagi penonton yang harap pertarungan pedang laser atau adegan epik seperti di Dune film, serial ini bisa terasa membosankan. Ada juga kritik bahwa cerita terlalu banyak subplot politik yang kadang terasa bertele-tele dan kurang menarik bagi yang tidak familiar dengan lore Dune. Dibandingkan Dune (2021) dan Dune: Part Two (2024) yang punya visual megah dan aksi besar, Prophecy lebih mirip serial politik seperti Game of Thrones versi sci-fi—lebih banyak intrik daripada pertempuran. Beberapa fans bilang ini “terlalu lambat untuk jadi serial action”, tapi bagi yang suka dunia-building dan karakter kompleks, justru itu yang membuatnya istimewa.

Respon Penonton dan Dampak

Penonton Indonesia menyambut positif—serial ini laris di HBO Max dan banyak diskusi di grup dan sosmed soal lore Bene Gesserit dan performa Emily Watson. Banyak yang bilang ini “Dune untuk orang dewasa yang suka politik dan intrik”. Viewership minggu pertama jadi salah satu yang tertinggi untuk serial HBO tahun 2025. Di media sosial, klip Valya menggunakan “Voice” dan adegan intrik Harkonnen jadi viral. Serial ini juga berhasil memperluas universe Dune tanpa merusak canon film Villeneuve. Banyak yang bilang ini bukti bahwa Dune bisa sukses dalam format serial dengan tone yang lebih lambat dan mendalam. Season 2 sudah diumumkan untuk 2027, dengan rumor fokus pada perkembangan Bene Gesserit dan asal-usul Paul Atreides.

Kesimpulan

Dune: Prophecy adalah serial sci-fi epik yang berhasil jadi prekuel layak untuk universe Dune. Visual memukau, performa Emily Watson dan cast kuat, serta dunia-building yang mendalam bikin serial ini layak ditonton meski pacing lambat. Bagi penggemar Dune yang suka intrik politik dan lore kompleks, ini adalah tambahan yang sangat memuaskan. Bagi penonton biasa yang harap aksi nonstop, mungkin terasa terlalu berat. Worth it? Ya—terutama kalau kamu sudah nonton Dune film dan ingin tahu lebih dalam soal Bene Gesserit. Kalau suka Game of Thrones versi luar angkasa, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan waktu dan konsentrasi, karena serial ini bukan hiburan cepat saji. Dune universe semakin luas dan semakin menarik.

 

BACA SELENGKAPNYA DI…

Post Comment