Review Film Final Destination: Bloodlines – Maut Datang Lagi

review-film-final-destination-bloodlines-maut-datang-lagi

Review Film Final Destination: Bloodlines – Maut Datang Lagi. Final Destination: Bloodlines resmi tayang 16 Mei 2025 dan langsung jadi salah satu rilis horor paling dinanti tahun itu. Film keenam dalam franchise ini kembali bawa konsep kematian yang tak bisa ditipu, dengan twist baru: darah keluarga yang “terkutuk” membuat kematian mengejar lintas generasi. Disutradarai duo Zach Lipovsky & Adam B. Stein, film ini dibintangi Teo Briones sebagai Stevie, Brec Bassinger sebagai kakaknya, dan Tony Todd kembali sebagai William Bludworth. Dengan durasi 1 jam 50 menit dan budget US$48 juta, film ini sudah raup US$285 juta global hingga Januari 2026. Rating Rotten Tomatoes 81% kritikus dan 88% penonton, CinemaScore B+. Cerita fokus pada Stevie yang selamat dari kecelakaan pesawat tapi langsung jadi target “Rantai Kematian” yang menyerang keluarganya satu per satu. Pertanyaannya: apakah Bloodlines berhasil bikin maut datang lagi dengan cara segar, atau cuma ulangan formula lama? REVIEW FILM

Kekuatan Adegan Kematian yang Masih Brutal di Film Final Destination: Bloodlines

Franchise Final Destination selalu dikenal karena adegan kematian kreatif dan mengerikan—dan Bloodlines tetap setia pada itu. Adegan pembuka kecelakaan pesawat jadi salah satu yang paling intens sepanjang seri: turbin rusak, badan pesawat terbelah, dan penumpang terhisap keluar dalam detik-detik mencekam. Setelah itu, kematian datang dengan cara yang semakin sadis dan rumit—sebuah konstruksi bangunan runtuh, kecelakaan lift, dan ledakan tabung gas yang bikin penonton melompat dari kursi. Efek praktis dan CGI digabung dengan baik—darah, tulang patah, dan luka terasa nyata tanpa terlalu berlebihan. Setiap kematian punya build-up panjang yang bikin jantung berdegup kencang, dan twist “kematian gagal satu kali tapi datang lagi” tetap bikin tegang. Tony Todd sebagai Bludworth kembali dengan monolog ikoniknya—suara dalam dan tatapan mata yang dingin bikin penonton merinding setiap kali dia muncul.

Performa Cast dan Cerita yang Lebih Emosional dari Film Final Destination: Bloodlines

Teo Briones sebagai Stevie berhasil bawa karakter yang relatable—remaja yang takut kehilangan keluarga tapi berusaha lawan nasib. Brec Bassinger sebagai kakaknya beri performa kuat sebagai sosok pelindung yang mulai retak karena trauma. Chemistry mereka terasa nyata, terutama di adegan keluarga yang emosional. Cerita kali ini lebih fokus ke ikatan darah dan warisan keluarga—bukan cuma “hindari kematian”, tapi juga “kenapa kematian pilih keluarga ini”. Tema trauma lintas generasi dan rasa bersalah bikin film terasa lebih dalam dibanding installment sebelumnya. Humornya tetap ada, tapi lebih gelap dan sarkastis—cocok dengan tone franchise yang selalu campur antara horor dan satire.

Kelemahan dan Perbandingan dengan Film Sebelumnya

Meski kuat, film ini punya kelemahan di pacing dan orisinalitas. Babak tengah terasa agak repetitif—kematian demi kematian tanpa cukup pengembangan karakter. Beberapa adegan terasa terlalu mirip film sebelumnya (kecelakaan konstruksi mirip Final Destination 3, ledakan mirip yang pertama). Twist akhirnya cukup mengejutkan tapi tak seikonik “kematian tak bisa ditipu” di film asli. Durasi 1 jam 50 menit terasa pas, tapi beberapa penonton bilang terlalu banyak jump scare murahan di tengah. Dibandingkan film pertama yang revolusioner atau Final Destination 2 yang punya adegan highway ikonik, Bloodlines terasa lebih “aman” meski tetap brutal. Beberapa fans hardcore bilang ini “bagus tapi tak sehebat yang lama”.

Respon Penonton dan Dampak

Penonton Indonesia suka banget—film ini laris di bioskop-bioskop besar, dengan banyak yang nonton berulang untuk adegan kematian yang brutal. Box office US$285 juta (dengan proyeksi akhir US$400–450 juta) tunjukkan sukses komersial, meski tak sebesar Inside Out 2 atau Mufasa. Di media sosial, klip kematian lift dan pesawat jadi viral, dan banyak yang bilang “ini Final Destination paling sadis sejak yang pertama”. Film ini juga bantu revitalisasi franchise—setelah hiatus panjang, Bloodlines bukti bahwa konsep “kematian datang” masih punya daya tarik besar. Sekuel ketujuh sudah diumumkan untuk 2027, dengan rumor fokus ke generasi baru lagi.

Kesimpulan: Review Film Final Destination: Bloodlines – Maut Datang Lagi

Final Destination: Bloodlines adalah sequel yang berhasil bawa kembali maut dengan cara brutal dan epik. Adegan kematian kreatif, visual mencekam, dan emosi keluarga yang lebih dalam bikin film ini layak ditonton. Meski pacing tengah agak lambat dan beberapa adegan terasa repetitif, film ini tetap jadi salah satu horor terbaik 2025. Worth it? Sangat—terutama buat fans franchise yang kangen gore dan ketegangan. Kalau suka horor thriller dengan twist kematian tak terduga, ini wajib ditonton di bioskop—gelap, suara kencang, dan popcorn wajib. Maut datang lagi, dan kali ini lebih sadis. Nonton kalau belum—siap-siap melompat dari kursi!

BACA SELENGKAPNYA DI…

Post Comment