Review Film Lafran: Pejuang yang Tak Pernah Menyerah
Review Film Lafran: Pejuang yang Tak Pernah Menyerah. Lafran tayang di bioskop Indonesia pada 31 Oktober 2024, menjadi salah satu film biografi sejarah yang paling dinanti tahun itu. Disutradarai Fajar Bustomi dan dibintangi Abidzar Al Ghifari sebagai Lafran Pane, film berdurasi 112 menit ini menceritakan perjuangan pemuda Batak itu mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada 1947 di tengah gejolak revolusi kemerdekaan. Dengan latar Yogyakarta masa perjuangan, cerita menyoroti idealisme Lafran yang gigih memperjuangkan Islam moderat, keadilan sosial, dan persatuan bangsa di tengah konflik politik serta ancaman fisik. Film ini mendapat sambutan hangat dari penonton dengan rating tinggi di bioskop dan apresiasi atas pendekatan yang tidak berat sebelah serta penampilan Abidzar yang meyakinkan. Lafran bukan sekadar cerita sejarah, tapi potret pejuang muda yang tak pernah menyerah meski dikelilingi tekanan dan bahaya. REVIEW KOMIK
Alur Cerita dan Plot: Review Film Lafran: Pejuang yang Tak Pernah Menyerah
Cerita dimulai dari Lafran Pane, mahasiswa muda Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) yang baru saja menyelesaikan pendidikan menengah di Tapanuli. Di Yogyakarta yang sedang menjadi pusat perjuangan kemerdekaan, Lafran melihat banyak mahasiswa Islam terpecah antara kelompok nasionalis sekuler dan kelompok agamis yang kaku. Ia merasa umat Islam perlu organisasi yang bisa menyatukan intelektual muda Muslim untuk ikut membangun bangsa tanpa kehilangan identitas agama. Pada 5 Februari 1947, bersama beberapa teman, Lafran mendirikan HMI dengan dasar ideologi Ahlussunnah wal Jamaah dan semangat kebangsaan. Plot mengikuti perjuangan awal organisasi itu: mencari anggota, menghadapi penolakan dari kelompok lain, hingga ancaman dari Belanda yang sedang menguasai sebagian wilayah. Ada konflik internal ketika beberapa anggota ingin HMI lebih radikal, sementara Lafran bersikeras tetap moderat dan fokus pada pendidikan serta dakwah. Ketegangan meningkat ketika Lafran dan teman-temannya terlibat dalam perlawanan bersenjata melawan agresi militer Belanda, termasuk momen ketika ia harus memilih antara keselamatan diri dan tanggung jawab organisasi. Meski pacing agak lambat di bagian tengah untuk membangun karakter, klimaksnya kuat dengan adegan perjuangan fisik dan moral yang menyentuh. Ending memberikan penutupan yang realistis dan menghormati sejarah tanpa terlalu heroik.
Pemeran dan Penampilan: Review Film Lafran: Pejuang yang Tak Pernah Menyerah
Abidzar Al Ghifari sebagai Lafran Pane tampil sangat meyakinkan. Ia berhasil menangkap semangat idealis seorang pemuda Batak yang tegas tapi rendah hati, dengan aksen dan gestur yang terasa autentik. Penampilannya di adegan-adegan diskusi panas dan momen kesendirian terasa sangat hidup, membuat penonton mudah terhubung dengan karakternya. Pemeran pendukung seperti Ayu Laksmi sebagai ibu Lafran dan Derbha Kai sebagai teman seperjuangan menambah kedalaman emosional. Ensemble cast secara keseluruhan solid, dengan chemistry yang terasa seperti kelompok mahasiswa sungguhan di masa revolusi. Visual film menggambarkan Yogyakarta 1940-an dengan baik—jalan berbatu, masjid tua, dan suasana perang yang terasa nyata tanpa berlebihan. Sinematografi dan musik memberikan nuansa hangat namun tegang yang pas untuk cerita perjuangan.
Elemen Perjuangan dan Sejarah
Film ini kuat dalam menggambarkan perjuangan Lafran bukan sebagai pahlawan sempurna, melainkan pemuda biasa yang punya keraguan, marah, dan tekad. Ada kritik halus terhadap polarisasi di kalangan umat Islam saat itu, serta bagaimana Lafran memilih jalan tengah yang inklusif. Adegan diskusi tentang Pancasila, negara Islam, dan peran pemuda terasa relevan hingga hari ini. Horor tidak ada di sini, tapi ketegangan datang dari ancaman nyata: penangkapan oleh Belanda, konflik internal, dan risiko pengkhianatan. Film berhasil menyajikan sejarah tanpa terasa seperti pelajaran sekolah—dialog alami dan momen kecil seperti Lafran menulis piagam HMI di kamar sederhana terasa sangat manusiawi. Beberapa penonton menyebut bagian tengah agak lambat, tapi itu justru memberi ruang untuk membangun empati terhadap perjuangan yang tidak selalu heroik.
Kesimpulan
Lafran adalah film biografi yang tulus dan menginspirasi, berhasil menyajikan sosok pejuang muda yang tak pernah menyerah dengan cara sederhana tapi kuat. Abidzar Al Ghifari membawa karakter Lafran Pane menjadi sangat hidup, sementara arahan Fajar Bustomi menjaga nada hangat tanpa kehilangan bobot sejarah. Meski bukan film aksi besar atau horor, ia sukses menggugah rasa bangga dan refleksi tentang idealisme pemuda di masa lalu yang masih relevan hari ini. Cocok untuk ditonton bersama keluarga atau generasi muda yang ingin tahu lebih banyak tentang sejarah organisasi mahasiswa Islam. Skor keseluruhan: 8/10—cerita pejuang yang tak pernah menyerah, disajikan dengan hati dan kejujuran.



Post Comment