Review Film Post Mortem

review-film-post-mortem

Review Film Post Mortem. Di akhir 2025, film Post Mortem (2020) masih sering disebut sebagai salah satu horor supernatural Hongaria paling ambisius dan atmosferik. Disutradarai Péter Bergendy, film ini jadi perwakilan resmi Hongaria untuk Oscar kategori Best International Feature Film tahun 2022. Berlatar musim dingin 1918 pasca-Perang Dunia I dan pandemi flu Spanyol, cerita ikuti Tomás, fotografer post-mortem yang selamat dari kematian di medan perang. Ia diundang gadis kecil yatim piatu bernama Anna ke desa terpencil untuk foto jenazah warga. Namun, desa itu penuh kematian misterius dan aktivitas hantu ganas. Dengan efek praktis mengesankan dan setting periode detail, film ini tawarkan ghost story klasik tapi dengan skala besar yang jarang di horor Eropa. BERITA BASKET

Plot dan Ketegangan yang Dibangun Perlahan: Review Film Post Mortem

Cerita dimulai dengan Tomás yang hampir mati di medan perang, tapi “diselamatkan” visi gadis kecil. Ia lalu kerja sebagai fotografer jenazah keliling, pose mayat bersama keluarga untuk kenangan terakhir. Saat tiba di desa Anna, ia temukan banyak kematian karena flu dan tanah beku tak izinkan penguburan—jenazah menumpuk. Fenomena aneh muncul: suara malam hari, bayangan, hingga foto tangkap sosok tak kasat mata. Tomás dan Anna selidiki, ungkap bahwa kematian massal ciptakan roh-roh terperangkap yang marah dan balas dendam. Build-up lambat tapi efektif—dari misteri jadi chaos hantu besar di paruh akhir. Twist soal asal roh dan motifnya beri lapisan tambahan, meski beberapa terasa repetitif. Ending spektakuler penuh aksi dan api, tapi agak over-the-top bagi yang suka horor subtle.

Visual, Efek, dan Atmosfer yang Menjadi Kekuatan: Review Film Post Mortem

Kekuatan utama film ini ada pada produksi periode yang mewah: desa musim dingin beku, kostum autentik, dan ruang rumah gelap ciptakan rasa terisolasi mencekam. Efek praktis hantu—gerakan contortion, makeup mengerikan, stunt fisik—luar biasa, jauh lebih baik daripada CGI murah. Sosok hantu muncul dengan cara kreatif, seperti bayangan di foto atau serangan tak terlihat, beri jumpscare alami tanpa berlebih. Sinematografi dingin dengan warna abu dan kabut tambah nuansa gothic, dukung score haunting yang naik intensitas perlahan. Akting Viktor Klem sebagai Tomás solid—dari skeptis jadi pelindung Anna—sementara Fruzsina Hais sebagai Anna beri innocence yang kontras dengan teror. Hubungan surrogate father-daughter mereka jadi jantung emosional film.

Tema dan Beberapa Kelemahan

Film ini eksplor tema grief massal pasca-perang dan pandemi, bagaimana kematian tak wajar ciptakan roh gelisah yang tak bisa istirahat. Ada kritik halus soal takhayul versus sains—Tomás gunakan teknologi foto dan fonograf untuk “tangkap” hantu. Namun, beberapa kelemahan terasa: pacing lambat di awal, plot kadang convoluted dengan terlalu banyak roh tanpa penjelasan jelas, dan ending agak chaotic. Beberapa momen horor jatuh ke comical karena overacting hantu atau efek terlalu dramatis. Meski begitu, film ini hindari klise Hollywood, beri nuansa Eropa yang lebih folk horror dengan sentuhan sejarah nyata.

Kesimpulan

Post Mortem (2020) jadi horor supernatural Hongaria yang ambisius dan visually stunning di akhir 2025, dengan atmosfer dingin mencekam, efek praktis top-notch, dan tema grief pasca-tragedi yang mendalam. Cocok buat penggemar ghost story klasik seperti The Woman in Black atau The Others, tapi dengan skala lebih besar dan elemen periode unik. Meski pacing lambat dan ending agak berantakan, film ini tetap beri pengalaman haunting yang memorable, bukti horor Eropa bisa saingi produksi besar. Rekomendasi kuat untuk yang suka horor atmosferik dengan praktikal effects mengesankan—salah satu highlight genre dari dekade ini.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Post Comment