Review Film Terbaru Judul One Battle After Another
Review Film Terbaru Judul One Battle After Another. Pada 25 November 2025, “One Battle After Another” milik Paul Thomas Anderson (PTA) masih jadi pembicaraan utama di bioskop dan streaming digital, meski sudah sebulan rilis sejak 25 September. Film action-thriller ini tembus box office 150 juta dolar global dalam dua minggu pertama, tapi yang bikin heboh adalah rating Metacritic 97—tertinggi dekade ini—dan 94 persen di Rotten Tomatoes dari 250 ulasan. Bukan cuma tembakan dan ledakan, film ini campur screwball comedy, kritik politik pedas, dan cerita ayah-anak yang hangat, dengan Leonardo DiCaprio sebagai Bob Ferguson, revolusioner gagal yang paranoid tapi penuh kasih. Di tengah kontroversi soal nada anti-fasisme dan pengaruh Pynchon, film ini dirayakan sebagai “film masa kita” yang lucu tapi ngena. Artikel ini kupas review dari tiga sudut: narasi epik PTA, performa DiCaprio dan cast, serta dampak budaya yang kontroversial.
Narasi Epik PTA: Dari Chase Scene ke Komentar Sosial
Paul Thomas Anderson sekali lagi bukti dirinya master narasi campur aduk—film ini buka dengan momentum klimaks ala action blockbuster, tapi pelan-pelan ungkap lapisan filosofis soal perjuangan abadi melawan kekuasaan. Roger Ebert bilang, “film ini buka dengan momentum klimaks action film dan tak pernah pelan, tapi tetap rooted in character”. Cerita Bob Ferguson, mantan revolusioner yang hidup off-grid bareng putri Willa (Zoe Kazan), terinspirasi Vineland karya Thomas Pynchon—dari bom di pengadilan sampai konfrontasi supremasi kulit putih, PTA gabung chase scene megah dengan dialog tajam soal hak aborsi dan imigrasi.
Yang bikin epik, PTA tak jatuh ke polemic; ia pakai humor gelap dan visual dinamis Michael Bauman untuk amplifikasi tensi. NYT sebut “film ini exhilarating karena engage dengan momen sekarang seperti sedikit film fiksi Amerika”—dari bom di kantor politisi anti-aborsi sampai jaringan underground Latinx ala Harriet Tubman. Tapi kritik datang: Esquire bilang “ambisius tapi tak koheren, banyak battle tapi tak ada pesan jelas”. Meski begitu, durasi 2 jam 15 menit terasa cepat, dengan ending optimis yang bilang “bukan satu kekalahan lagi, tapi satu battle lagi”—pesan harapan di tengah kekacauan.
Performa DiCaprio dan Cast: Buffoonish tapi Manusiawi
Leonardo DiCaprio jadi jantung film ini, transformasi jadi Bob Ferguson yang stoned-paranoid tapi penuh kasih—Roger Ebert puji “DiCaprio wholly rising to the buffoonish occasion”, dari teriak di payphone lupa password sampai pelukan haru dengan Willa. Ini comeback DiCaprio setelah hiatus, dengan chemistry ayah-anak yang “extraordinary tenderness” ala NPR—Willa (Kazan) jadi suara rasional yang bikin Bob sadar konsekuensi masa lalu.
Cast pendukung tak kalah: Teyana Taylor sebagai Perfidia, pemimpin jaringan underground, “cuts through the world like a knife” (NYT), dengan monolog Latino Harriet Tubman yang ngena. Guillermo del Toro sebagai kolonel musuh bikin musuh jadi manusiawi, tambah dimensi. The Film Experience sebut “film ini PTA murni, dengan virtuositas yang cheeky tapi rooted”—performa ensemble bikin kontroversi politik terasa personal, bukan ceramah. IMDb user review rata 8.0 dari 50 ribu vote, puji “hilarious, hard-hitting, just the movie we need” (The Eagle).
Dampak Budaya: Kontroversi dan Optimisme di Tengah Kekacauan
“One Battle After Another” bukan cuma film; ia cermin 2025 yang penuh polarisasi. Esquire sebut “film paling kontroversial tahun ini”—kritik supremasi kulit putih dan kekuasaan negara picu debat di Twitter soal “anti-Amerika”, tapi PTA bela sebagai “rallying cry” (NYT). Pengaruh Pynchon dari 60an-80an bikin film terasa timeless, tapi relevan dengan isu aborsi dan imigrasi sekarang—NPR bilang “pessimist big-hearted yang beri tenderness di tengah perang”.
Dampaknya luas: debut weekend 45 juta dolar, digital streaming dominan November, Metacritic 97 jadi “best-reviewed decade”. The Film Experience rank nomor dua 2025 setelah Sinners, puji “unconventional tapi best way”. Di bioskop, film ini dorong diskusi pasca-tonton, dengan ending optimis “one battle” jadi meme harapan. Kontroversi tak henti, tapi itu bukti PTA sukses: film yang bikin orang marah, tapi juga berpikir.
Kesimpulan
25 November 2025, “One Battle After Another” bukti PTA di puncak: narasi epik dari chase ke sosial, performa DiCaprio buffoonish tapi hangat, dampak budaya kontroversial tapi optimis—film 2025 paling urgent dan entertaining. Dari rating 97 Metacritic ke debat Twitter, ini bukan hiburan biasa; ia panggilan bertarung dengan humor dan hati. Tonton di bioskop besar untuk momentum penuh—karena di dunia penuh battle, film ini ingatkan: kita tak sendirian. Siap satu battle lagi?



Post Comment